Minggu, 22 September 2013

mata hijau

        Hidup ini bukankah selalu saja tidak terduga ,aku berharap hanya bertemu yg bermata hitam atau mungkin yg bermata coklat seperti mataku. Bermata hijau atau biru tentu saja jauh dari anganku. Punya selera humor yg sama,wawasan luas dan membuatku nyaman merupakan hal yg menjadi pnybabku lbh menyukai kesendirian. Kemandirian,berprinsip dan keras kepala hampir menjadi trademarkku. Kemampuanberadaptasi dngn sekitar merupakan sebuah keunggulan tersendiri ,tapi hal itu tidak serta merta membuat kita nyaman. Bisa menahan napas yg pjg saat berenang bukan berarti kita ingin hidup sel amanya di dalam air,begitulah. Ramah tamah dan sopan santun tentu mjd syarat mutlak dlm prgaulan. Tapi berteman dgn para pria selalu saja menimbulkan ketidaknyamanan ,karena entah mengapa pada akhir cerita mereka selalu saja menawarkan sesuatu yg sejak awal sdh  dibatasi dan beri jarak. Sehingga seringkali trpksa harus kehilangan pribadi2 yg baik,yg sbnrnya tak prnh ada kslahan dr siapapun tapi hanya kemampuanku dlm merasa nyaman yg rendah yg membuatku harus dihakimi dan untuk itu selalu berakhir dengan selamat tinggal. Kehilangan sahabat2 baik merupakan sebuah kesedihan trsendiri buatku. Jadi jgn trlalu brsdh karena bukan hanya kalian yg terluka.
      Pertemuan dgn si mata hijau awalnya sangatlah biasa,pertemanan dgn orang baru tentu saja memberikan kebahagiaan tersendiri. Pribadiku yg gampang akrab dgn orang baru dan menyukai humor mungkin menjadi alasannya mau berteman dgnku. Tdk sprti mata kebanyakan,matanya hijau dan parasnya sprti pangeran berkuda putih dlm negeri dongeng,tapi hal itu tdk menggoyahkanku. Meski sempat trgoda punya bayi seindah matanya tp "tdk", bukan itu alasan yg kupunya. Tak peduli setampan apa mahluk itu, biasanya aku sudah sgt kebal. Tapi bgm mungkin si mata hijau punya paket lengkap yg dicari, berwawasan luas, selera humor yg sama dan mampu membuatku nyaman. Kesabarannya membuatku takjub ,kemampuan mengendalikan diri dan menghargai perbedaan pendapat mungkin sdh terasah karena profesinya sbg seorang attorney. Tak ada cela bagiku. Percakapan kami selalu meloncat- loncat,krisis ekonomi, kenangan dosen, politik, kemampuan menjadi seorang linguists,percakapan ttg kedokteran,budaya,remeh temeh (hal2 remeh),bahkan keadaan hidup. Dialah mata pertama kali yg kuakui. Bagiku dia tempat bertukar pikiran,diskusi suatu kasus dan pembelajaran. Tapi aku tau benar ada hal yg memisahkan,ada hal krusial yg sgt mndsar. Kami mengetahuinya, banyak sekali prbdaan yg kami miliki mulai dr warna mata,nationality,budaya, pemikiran dan masih banyak lagi. komunikasi tak selamanya mulus. seringkali ia marah bukan karena kemarahan yg kusebabkan. Tapi ia marah karena tanpa sadar trkdg ia membuatku terdiam. Entah bgm caranya,ia selalu saja bisa mendeteksi emosiku. Ia bahkan mengenalku lebih drpd diriku sendiri. Apakah dia belahan jiwa? sungguh menakutkan. Sampai akhirnya pembicaraan yg slalu dihindari tak mampu lg dibendung. Ia menawarkan sbuah khdpn baru,ia bhkn brsdia brkompromi pada masa depan. Ia menyerahkan sepenuhnya kepadaku. Suatu hal yg tdk biasa untuk seorang mapan sepertinya, mau melihat kemungkinan lain demi seorang sepertiku. Seorang yg pd hari libur lebih suka bermalasan seharian diatas tempat tidur sambil membaca buku. Dia bahkan memaklumiku, menawarkan memasak dan meminjamkan kasur,brjanji tdk akan mengganggu. Sebuah humor yg membuatku terhibur. Entah dia hanya penggoda atau tulus. Meski aku yakin kemampuan memasakku diatas kemampuannya.
     Tapi ketika akhirnya dia memintaku untuk menerimanya ,tak ada kata 'i do' sprti yg ada di film2. Tragis, bagiku cinta adalah hal yg baik,indah tp tdk bnr untuk mengorbankan logika. "Betapa menderitanya kau,maka tanggunglah",itu adalah hal yg bnr untuk dilakukan. Syaratku satu,kita harus seagama. Hdp brsama memiliki konsekuensi untuk melakukan ritual brsama tanpa trkrcuali ibadah. Maka dgn logika kuluruskan kembali,pd akhirnya kepada Allahlah kita kembali. Ketika penghakiman trjadi skali lg krna penolakan yg kulakukan.
   Tapi kali ini aku tdk ingin kehilangan sosok sahabat sepertimu. Tiba2 aku menjadi sangat egois,tak ingin kehilanganmu,mari berteman,mari kita kembali kpd awal prtmanan kita,dmn kita saling menghargai prbedaan pndpt. "Waktu", itulah yang dibutuhkan seseorang untuk pulih. Aku percaya dan aku memberikannya, lalu aku hanya perlu menunggu. Kesabaran selalu membuahkan hal yang manis, setelah segalanya, "selamat datang kembali", seorang yang kini bagiku tanpa identitas, bukan sahabat, karena tentu ada jarak stlh semuanya, bukan mantan pacar karena aku menentang keras pacaran yang haram dalam islam, entah apa kau bagiku kini? Mungkin sosok yang kuhormati dan teman berdiskusi. Terima kasih karena tidak pergi.

(menulis dr hp memang memberikan kesetressan tersendiri).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar