Saya sengaja mengcopy paste tulisan Pa Sob ini tentang padi SRI, karena tulisan ini telah menginspirasi saya, walaupun saya sudah pernah baca berbagai artikel tentang padi SRI dan sempet bikin bundelan sendiri untuk data padi SRI ini, tetap saja yang satu ini nempel di hati. Waktu saya kursus di Pare, saya nge-camp di Damsel yang notabene depannya itu sawah, damai sekali rasanya melihat sawah yang sudah ditanami padi, ada yang masih hijau, ada juga yang sudah mulai berisi bulir2 padi. Saya kursus di Elfast, dan tepat di depan Elfast itu ada ibu warung yang jualan aneka masakan, (wah thanks bgt ya bu, aku selalu ngerepotin beliau, secara selalu ada aja requestku yg aga aneh, alias beda ama pembeli yg lain). Nah si ibu itu selain punya kosan dan warung masakan, beliau juga jadi buruh sawah dengan sistem bagi hasil atau biasa dia sebut paroan ama yang punya lahan. Sempet saya ngebahas tentang padi yang beliau tanam dan tanya2 ttg hasil yang diperoleh. Setelah beliau selesai cerita dan saya selesai sarapan, mulailah saya ngoceh tentang padi organik dan sistem SRI, si ibu cuma ngangguk2. Saya sempet tanya, berapa hasil panennya?beliau jawab 9,5, saya aga rancu antara 950 ribu atau 9,5 juta, bodohnya saya cuma ngangguk aja, ga nanya lebih detil. Saya juga sempet tanya ttg luas lahan, beliau ga ngerti ukuran meter atau hektar, cuma bilang, yah segitu mba, sepetak aja, wew, makin bingung.???berhubung data yang dia kasih ga lengkap jadi saya ga bisa menganalisis lebih jauh untuk ukuran panennya, sudah maksimalkah? Sistem panennya pun ternyata masih sistem ijon, wah miris memang, sistem ini sudah mendarah daging di Indonesia, si Ibu bilang, dia sih seneng2 aja dengan sistem itu, tau bersih, asal ada lebih. Sekali lagi saya bingung, untuk menganalisis hasil panen, karena para ijoners tentunya lebih pandai dan ga mungkin bersedia rugi, so saya berkesimpulan sudah pasti petani yang dirugikan. Suudzonkah??atau justru ini sebuah simbiosis mutualisme??Terkadang kita para pemerhati beranggapan dan berpikiran lebih kritis, bukankah petani akan dirugikan nantinya?harus ada sistem yang lebih baik?tapi sekali lagi, bahkan si penderitapun senang dan tidak merasa dirugikan, anehkah???yah saya berkesimpulan, Indonesia memang memiliki warga yg baik hati, betapapun disakiti, mereka tetap ikhlas menerima??sebuah perenungankah??atau justru harus lebih berbesar hati??penilaian tentu dikembalikan pada pribadi masing2, namun satu yang pasti, sistem ijon termasuk gharar dalam islam, jadi hindarilah, sebisa mungkin:).
Friday, August 8, 2008
PADI RAKSASA DALAM KARUNG

Bandung, Jl. Alfa No. 92, Cigadung II, 9 Agustus 2008
Foto: Sajiboen 2008, Padi Karung 90 Hari 104 Anakan
Oleh: Sobirin
Teman saya ahli padi namanya Alik Sutaryat pekerjaannya menekuni padi SRI (System of Rice Intensification). Dalam usaha mengembangkan padi SRI ini, dia berhasil menanam padi 1 butir dalam karung goni dengan kompos dan MOL buatan sendiri menjadi 104 anakan, hasil panen 0,70 kg.
Jenis padi Sintanur, ukuran karung goni diameter 60 cm dan tinggi 60 cm. Diisi dengan tanah dan kompos. Tanah 1 bagian, kompos 2 bagian. MOL buatan sendiri dari bahan keong sawah yang ditumbuk, dicampur dengan buah maja (dalam bahasa Sunda buah berenuk), dicampur dengan air kelapa.

Jenis karung goninya adalah karung goni tenunan dari rami, karung goni wadah beras jaman dulu, yang warnanya coklat, tembus air. Bukan karung goni plastik jaman sekarang yang warnanya putih dan tidak tembus air. Tiap hari disiram air, dan air terus merembas keluar.
Pemberian MOL encer tiap 3 hari. Menjelang berbulir tambahkan lagi kompos sebagai pengganti butir-butir kompos yang terbawa rembasan air keluar dari karung. Dalam waktu 90 hari, tinggi tanaman padi ini mencapai 1,5 meter, anakannya 104 batang.
Ketika dipanen menghasilkan gabah 0,7 kg. Kalau disetarakan dengan penanaman di sawah kurang lebih 70 ton per hektar per panen. Setelah panen, ketika digali, panjang akarnya mencapai 45 cm. Bandingkan dengan padi ember biasa dengan perlakuan biasa, anakan hanya 35 batang, hasil panen hanya 0,15 kg.
Saat ini Alik Sutaryat yang berasal dari Lakbok, Ciamis, Jawa Barat, sedang berupaya menanam padi karung yang diharapkan bisa menghasilkan panenan 1 (satu) kilogram atau 10 ons tiap karung yang asalnya hanya dari 1 (satu) butir benih gabah.
Dalam foto terlihat padi karung dipegang oleh saya Sobirin, dan padi ember dipegang oleh Sajiboen sahabat kompos dari Cirebon.
Foto: Sajiboen 2008, Padi Karung 90 Hari 104 Anakan
Oleh: Sobirin
Teman saya ahli padi namanya Alik Sutaryat pekerjaannya menekuni padi SRI (System of Rice Intensification). Dalam usaha mengembangkan padi SRI ini, dia berhasil menanam padi 1 butir dalam karung goni dengan kompos dan MOL buatan sendiri menjadi 104 anakan, hasil panen 0,70 kg.
Jenis padi Sintanur, ukuran karung goni diameter 60 cm dan tinggi 60 cm. Diisi dengan tanah dan kompos. Tanah 1 bagian, kompos 2 bagian. MOL buatan sendiri dari bahan keong sawah yang ditumbuk, dicampur dengan buah maja (dalam bahasa Sunda buah berenuk), dicampur dengan air kelapa.

Jenis karung goninya adalah karung goni tenunan dari rami, karung goni wadah beras jaman dulu, yang warnanya coklat, tembus air. Bukan karung goni plastik jaman sekarang yang warnanya putih dan tidak tembus air. Tiap hari disiram air, dan air terus merembas keluar.
Pemberian MOL encer tiap 3 hari. Menjelang berbulir tambahkan lagi kompos sebagai pengganti butir-butir kompos yang terbawa rembasan air keluar dari karung. Dalam waktu 90 hari, tinggi tanaman padi ini mencapai 1,5 meter, anakannya 104 batang.
Ketika dipanen menghasilkan gabah 0,7 kg. Kalau disetarakan dengan penanaman di sawah kurang lebih 70 ton per hektar per panen. Setelah panen, ketika digali, panjang akarnya mencapai 45 cm. Bandingkan dengan padi ember biasa dengan perlakuan biasa, anakan hanya 35 batang, hasil panen hanya 0,15 kg.
Saat ini Alik Sutaryat yang berasal dari Lakbok, Ciamis, Jawa Barat, sedang berupaya menanam padi karung yang diharapkan bisa menghasilkan panenan 1 (satu) kilogram atau 10 ons tiap karung yang asalnya hanya dari 1 (satu) butir benih gabah.
Dalam foto terlihat padi karung dipegang oleh saya Sobirin, dan padi ember dipegang oleh Sajiboen sahabat kompos dari Cirebon.